Merah marun. Merah cerah. Kuning. Jingga. Bunga adenium yang bermekaran di pekarangan rumah selalu nampak memukau di kala pagi. Tetes embun yang membalut, menjadikannya makin mempesona. Apalagi dengan polesan sinar mentari pagi yang kuning cerah, membuatnya makin memikat saja. Meski sekejap, hampir tiap pagi aku memandanginya. Dan kau tau? itu membuatku bersemangat! Aku merasa ada sesuatu yang merasuk ketika aku melihatnya. Menyeruakkan semangat hati ini. Seakan mereka bersorak girang, “semangat pagi irfaan,..”. Ahh, damainya pagi di rumah tercinta.

Masih ingat kala dulu mereka masih kecil-kecil, masih berupa biji-biji mungil yang rapuh, begitu ringan hingga tanpa sulur-sulurnya pun mereka dapat diterbangkan dengan mudah oleh angin yang berhembus. Biji-biji adenium memiliki sulur-sulur halus mirip sekali dengan bulu domba, namun jauh lebih ringan. Secara alami, tatkala mereka sudah cukup umur, kelopak penahannya akan terbuka, dan mereka akan diterbangkan oleh angin hingga jatuh di suatu tempat dan tumbuh di sana. Makanya, dulu ketika sudah terlihat kelopak penahan bijinya matang, aku tutup dengan plastik supaya mereka tidak diterbangkan angin. Jika sudah terlihat banyak biji yang keluar, kupetik saja kelopaknya dan kukumpulkan biji-bijinya. Setelah melepas sulurnya satu persatu, barulah mereka kutanam di pot kecil-kecil. Jika sudah terlihat besar, barulah mereka dipindahkan ke pot yang lebih besar. Dan kini mereka sudah besar dan meranum, bahkan sudah mempersembahkan mahkotanya yang terindah, yang dengan riang selalu menyapaku di kala pagi. Melepaskan semua kepenatan yang berjibun di ubun-ubun.

Namun, sering kali akhir-akhir ini tiba-tiba aku tersentak tatkala memandangi jajaran bunga-bunga adenium itu. Satu hal yang menyisip dan sangat menggetarkan. Bahwa rasa yang timbul tatkala memandangi mereka yang kutanam, kupupuk, kubesarkan, dan kurawat hingga berbunga indah adalah suatu kebanggaan tersendiri, lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan diriku sendiri yang hampir 22 tahun hidup dan dirawat oleh bapak dan ibu ku? Ya. Aku selalu teringat kepada mereka ketika memandangi bunga adenium itu. Sosok-sosok luar biasa yang telah membesarkan aku dengan susah payah. Merawat dan mendidikku dengan kasih sayang yang tumpah ruah. Selalu menjagaku dengan penuh suka cita. Bahkan memberikanku yang terbaik dari sisi mereka.. Akankah mereka bangga denganku? Akankah ku bisa membahagiakan mereka? Bahkan sampai detik-detik terakhir semester delapan ini.. Sampai gelar S.Ked pun, apa yang bisa kuberikan untuk mereka?

Begitu berderainya rasa ini. Bunga-bunga adenium itu telah mengingatkanku betapa besar jasa-jasa orangtuaku. Betapa bapak dan ibuku telah membesarkanku dari bayi yang rapuh dan rewel kini menuju ambang kedewasaan yang penuh tantangan di luar sana. Mulai hari ini aku berjanji melakukan yang terbaik. Demi bapak dan ibuku, demi masa depanku. Hingga ku bisa mekar di masa-masa dewasa ini, sebagaimana bunga-bunga adenium itu yang luar biasa indahnya ketika mereka dewasa dan meranum. Hingga memberikan kebanggaan yang sempurna demi orangtuaku. Ya Rabb, semoga cita ini Kau kabulkan.. Kau lancarkan. Amiin.