Lagu “cavatina” emang lebih enak didengerin daripada “romance de amor”.
Aku bukan extremis lagu jazz, tapi aku juga tidak pro lagu classic. Tidak serta merta lagu2 jazz lebih baik daripada classic. Meski untuk lebih mudah bermain jazz seseorang sebaiknya memiliki basic penguasaan teknik-teknik lagu classic, tentu bukan berarti jazz berkasta lebih tinggi daripada classic. Semua memiliki ciri dan kekhasan masing-masing.
Note petikannya memang lebih rumit, tapi jelas bukan itu yang membuat cavatina lebih berasa di hati. Bagiku, cavatina lekat pada hal-hal rumit, dinamis, perfeksionis, sekaligus melankolis dan romantis. Sedang romance de amor sarat akan kesederhanaan, stagnansi, lugas, mudah, romantis dan apa adanya. Keduanya menampilkan sisi yang hampir berseberangan. Aku lebih suka pada hal-hal yang dinamis dan lebih rumit maka tidak keliru andai aku mengatakan cavatina lebih baik daripada romance de amor.
Sebagaimana seorang wanita lebih menyukai bunga anggrek daripada mawar, atau musisi yang lebih senang memilih gitar fender daripada gibson, terdapat kebebasan di sana. Pun dengan latar belakang alasan irasional bin emotif sekalipun. Mengingat kembali bangsa ini yang pernah (dan masih) suka berpikir emotif, aku jadi geli sendiri. Ambil saja contoh, bagaimana kualitas kepemimpinan seorang jusuf kalla masih dianggap kurang oleh rakyat daripada seorang Megawati? Rakyat kita masih mengelukan sosok Soekarno yang benar-benar disegani dunia. Soekarno yang proklamator itu hebat. Namun, adakah jaminan anaknya juga hebat? Soekarno membangun bangsa. Tapi, putrinya malah menjual (aset) bangsa. Berapa aset negara yang terjual? Satelit palapa aja yang kita bangga2kan itu turut dijual. Masyarakat pengguna web kudu ngerti ni kalo kita bergantung kabel bawah laut. Kalo selat malaka gempa, kabelnya ke”cut”, tamatlah indonesia jadi negara terpencil. Pada nggak bisa online-an lagi. Transaksi online ngadat. Bakal kayak apa ya ekonomi kita.. Nah lo, dengan track record kaya gini bagaimana megawati masih meraih suara hampir 30% rakyat kita pada pilpres kemaren? Benar-benar emotif dan tak logis.
Maka benar adanya bahwa pilihan hati mencerminkan diri. Mungkin rakyat kita masih terlalu emotif. Lebih memilih artis menjadi walikota ketimbang para politikus ulung yang mumpuni di bidangnya. Lebih bersimpati pada orang teraniaya padahal belum mengerti tendensi yang melandasi; fenomena inul & manohara. Walaupun toh sebenarnya aspek emotif memang tidak selalu lebih buruk daripada aspek rasio. Hal ini dikarenakan refleksi atas pilihan yang diambil jelas tidak 100% melukiskan keadaan diri sesungguhnya dari seseorang. Maka dari itu, boleh2 sajalah mengatakan cavatina lebih bagus daripada romance de amor. Meskipun aku suka keduanya, tapi Cavatina lebih merefleksikan diriku. Cavatina lebih menyita aspek emotifku. Tentu berdasar pada segala aspek logis dan psikologis yang kurasakan..