“Jangan pernah merasa takut, yang takut hanya cecurut”. Ni kata-kata almarhum Hari Roesli dalam suatu iklan di layar kaca sekitar lima tahun yang lalu. Meski uda ‘jadul’, tapi kata-kata ini berasa menohok. Iklan pas semasa aku SMA ni simple. Tapi cukup mengena. Apalagi bagi pecundang bermental cecurut kaya aku. Walau pecundang, siapa mau dikata mirip tikus curut! Makanya kata-kata bung Hari ni terasa dalem. Sangat lekat hingga ku ingat sampe saat ini.
Tikus curut itu bukan tikus werog yang gedhe itu. Yang kekar. BMI nya overload. Yang diminati bakul2 mie ayam buat melirik sumber daging ‘ayam’-nya yang baru. Haha. Tentu cukup beralasan kalo dr.Tantoro menyuruh kita makan tuh hewan pengerat. Memang kandungan proteinnya tinggi, tapi benar-benar jauh dari sertifikat ‘halal’ MUI. Tikus curut juga tak semenarik tikus whistar yang putih itu. Yang selalu aja jadi primadona sample uji di lab-lab kesehatan. Tikus curut juga jauh beda dengan tikus rumah yang pinter loncat ma manjat itu. Tikus curut menghuni kasta terendah dalam dunia per-tikusan. Mereka tinggal di got-got yang bau. Tanpa di comberan pun mereka sudah bau dengan aroma khasnya yang memuakkan itu. Disamping memang tubuh mereka yang kecil item, jauh dari kesan mungil dan menggemaskan. Whatever. Tapi aku paling benci disamakan dengan curut.
Bukan berarti aku menghina curut lho. Tapi hidup manusia tidak bisa dikatakan seperti curut. Lagian curut mana yang bisa hidup kayak manusia. Itu dua variabel tak berhubungan. Kalau digayutkan secara radikal, akan muncul istilah humanis ‘tidak berperikemanusiaan’. Tapi penggunaan paduan keduanya dalam kontekstual yang tepat bakal memberi makna lebih. Makanya kata-kata bung Hari sangat berarti bagiku. Paling tidak hasratku lebih berkobar setelah mendengarnya. Hari ini aku ingin mengingatnya kembali lekat-lekat. Aku ingin menancapkan lagi apa yang dulu pernah ada di hati ini; S.E.M.A.N.G.A.T.K.U. Semangat irfan !!