Gang dari masjid Al-Manar sampe kos benar-benar terang. Sholat isya malam ini semestinya menyenangkan. Tapi rupanya hatiku tak seceria rembulan yang wajahnya pulen bahagia di atas sana. Raut sembab mukanya seakan menertawakan aku yang sedang pilu. Menjadikanku ciut. Lembayun guyuran sinarnya yang gemilang menelanjangiku, seakan rasa malu ini terlihat gamblang olehnya. Ahh, betapa lugasnya kurasa skenario ilahi. Entah mengapa,terlintas begitu saja apa yang pernah kubaca dahulu dalam buku “The Miracle of water” karya Massaru Emoto. Bahwa air berisi nasi ketan yang diberi ucapan-ucapan yang baik, ternyata menghasilkan air tape yang wangi, sedang yang diberi kata-kata buruk, menghasilkan nasi ketan yang menghitam. Tapi yang menyentakkan adalah air dengan nasi ketan tanpa diberi kata-kata apapun, ternyata menjadikan nasi ketan yang busuk dengan aroma yang memuakkan, jauh lebih buruk daripada air dengan nasi ketan yang dicaci maki.

Artinya apa? Begitulah manusia. Ternyata didiamkan itu menyakitkan. Jauh lebih menyakitkan daripada dicaci maki. Didiamkan artinya keberadaan seseorang adalah tidak dianggap dan diabaikan. 70% tubuh kita ialah air. Maka sebenarnya eksistensi manusia begitu terkait dengan sifat-sifat dasar air. Analogisme itu begitu terasa malam ini. Dalam langkahku, begitu trenyuh diriku ketika aku sadar bahwa aku mengenyamnya; terabaikan dan tidak dianggap.

“Hati ini lara terkoyak

Ranum jiwa ini meredup jengah

Lantunan nada itu mungkin tak indah bagimu

Tapi aku merajutnya dengan dawai mahkotaku

Membingkainya dengan roman surgawi

Ahh, mungkin ku salah sangka

Mungkin ku salah duga

Tapi ku tak peduli lagi

Yang kini tlah kusadari, inilah aku,.

Yang terjebak dalam derit sayat hati”

Hmm, syair ini cukup. Cukup meredakan hatiku yang sudah mulai lunglai. Mungkin inilah jerit hati terakhirku di dalam sana. Sebelum ia mulai layu, menghitam, dan membusuk seperti nasi ketan itu.. menebar aroma liar yang arogan, menyengat, dan tanpa maaf.