“Tanpa susu mas..”, kataku. Stroberi original memang jus favoritku. Malem ni nyegaja aku mampir kios “Mr.Juice” yang buka mpe jam 10 malem. Disamping emang rindu, badanku yang kaga fit berasa perlu asupan vitamin C lebih. Badanku kaku seharian. Berangkat dari jogja jam setengah lapan pagi buat memburu rapat osmaru jam 9. Belum jg da janjian ma dokter nanang di lab anatomi jam 11. Nyari bahan skripsi. Hadew, benere kegiatan yang menyenangkan lho. Tapi entah mengapa badanku berasa berat sore tadi. Mata ni lengket abis. Mungkin rebahan sejenak cukup membantu. Makanya, begitu nyampe kos jam setengah tiga aku rebahan, berharap azan ashar bisa mbangunin aku dari tidurku.. tapi ternyata, tahukah kamu jam berapa aku bangun? Jam 5.12. Parah!!

Lagi aja minum dua sruputan kecil jus stroberi. Aku baru sadar kalo jalan surya ini emang rame. Lalu lalang kendaraan seperti nggak henti-hentinya melintas. Sampai perhatianku tertuju pada seorang ibu dengan motor honda astrea impressa yang mboncengin ketiga anaknya yang berseragam SD. Jam segini?? Seragam SD?? Hmm. Yang menarik perhatianku justru bukan anak SD nongol jam segini.. tapi pemandangan semacam ini mengingatkanku pada sosok orangtua yang bener2 rela, tulus ikhlas membanting tulang buat masa depan anak2nya. Entah mengapa hatiku trenyuh. Begitu melihat hal ini aku jadi ingat siang tadi. Di lab anatomi sembari menunggu dokter nanang tiba aku ngobrol dengan penjaga lab. Beliau bercerita tentang kedua putrinya. Dengan bangganya beliau menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan mengantarkan putrinya yang kini telah sukses bekerja di Bank Indonesia. Matanya nanar. Bergetar hatiku. Sinar matanya seakan penuh rasa syukur, gembira, dan rasa bangga ketika bercerita betapa kini putrinya telah menjadi orang yang sukses. Benar adanya jikalau orangtua sungguh menaruh harapan di pundak kita. Mengharapkan keberhasilan kita. Mengharapkan yang terbaik. Pun melihat kita berhasil adalah cita-cita tulus mereka. Betapa bahagianya mereka ketika harapan mereka terwujud. Ada rasa haru yang merasuk. Aku ingat bapak ibu di jogja sana. Betapa beratnya menghidupiku di kota solo ini. Betapa besar curahan kasih sayang mereka yang seakan tak bertepi.. Mereka bekerja siang malam membanting tulang di sana tentu mengharap yang terbaik bagiku. Aku jadi sadar betapa besar harapan mereka padaku..

Hmm, tak terasa jus strawberi di tanganku udah habis.. hari juga udah agak malam. Aku musti segera cari aqua literan untuk persediaan beberapa hari di kota ini. Maklum, galon ‘total’-ku uda habis..

Sembari menstarter honda supra-ku, kuberikrar dalam hati: “pak… bu’… aku akan memberikan yang terbaik buat kalian…” ^