Cukup beralasan ketika banyak pria mengibaratkan paras wanita seindah rembulan. Memang di angkasa bulan terlihat indah, tapi dalam jarak dekat, sejatinya permukaan bulan tidaklah rata, penuh kawah2 curam dan sangat jauh dari kesan indah.

Begitulah wanita, ketika lajang benar-benar mempesona, namun setelah didekati dan dipinang, di mata pria ia akan berubah menjadi momok yang menggetarkan bulu kuduk. Menyeramkan dan sangat ditakuti. Begitulah kiranya yang dirasakan para suami takut istri.

Bulan memang nampak indah di langit yang bersih. Apalagi dengan hamparan jutaan bintang yang berkilauan. Ketika purnama penuh, bulan memiliki performa pesona penuh. Benar-benar sangat lugas. Tak ada yang ditutup2i. Tak ada yang menolak berdecak kagum mengatakan purnama itu indah. Sedang dalam beberapa hari terakhir, bulan berpenampilan lain. Bulan sabit yang lentik nampak tersenyum centil, malu-malu menampakkan wajahnya. Sikapnya yang sembunyi-sembunyi dan memendam misteri ini malah menarik hati, menggugah rasa keingintahuan siapapun yang memandangnya. Begitulah, baik bulan sabit maupun purnama, keduanya memiliki pesona tersendiri dalam menggambarkan perempuan. Di mata pria, apa pun yang lugas dan terbuka maupun yang sedikit tertutup tentu sangatlah menarik. Keduanya benar-benar menyita hati pria. Disangkal maupun diakui, objektivitas naluriah pria memang demikian adanya.

Bulan memiliki siklus dalam peredarannya. Satu bulan siderik maupun satu bulan sinodik sama-sama menggambarkan rangkaian siklus bulan yang berulang. Dalam siklus tersebut penampakan bulan pun berlainan. Dalam tenggat purnama, bulan sangat cerah berseri. Namun saat bulan mati langit malam berasa hitam kelam, sesuai slogan; “ga ada bulan ga rame!!:p”. Begitulah pula wanita. Siklus bulanan yang mereka dapati membuat emosi diri mereka tidak stabil. Iya kalau lagi enak diajak ngobrol seperti putri dari kahyangan, kalau lagi “bad mood” hari pertama, nggak beda jauh sama ayam lagi ‘angrem’. Benar-benar m.e.n.y.e.b.a.l.k.a.n!!

Memang. Wanita unik bagai rembulan..