“Siapa bilang menulis itu mudah”. Setengah tidak percaya, ku ucapkan kembali kalimat itu berulang-ulang. Sempat terngiang beberapa kali di kepalaku, barulah aku mengerti bahwa kata-kata Prof. DR. Umar Anggoro Jenie setengah dekade yang lalu itu benar. Bahwa menulis tidak selalu mudah. Tidak semua orang bisa mencurahkan gagasan atau ide-ide di kepalanya dengan mudah, mengemasnya dalam kata-kata yang runtut, mudah ditangkap, dan jelas.

Menulis bagaikan mengukir prasasti bagi seseorang. Benarlah ungkapan “aku menulis, maka aku ada”. ‘Ada’ di sini bukan berarti hanya pertanda bahwa seseorang ada secara harfiah, tapi ‘ada’ di sini menunjukkan pula eksistensi seseorang di bidangnya, sejauh mana pandangan seseorang terhadap sesuatu, memetakan posisi seseorang, bahkan menunjukkan karakter pribadi seseorang. Sebagaimana berbicara, logat boleh sama, tapi ‘rasa’ pasti beda. Begitu pulalah menulis. Gaya bahasa bolehlah sama, tapi karakter tulisan tiap orang pasti berbeda, yang membuat ‘rasa’ dari tulisan pun berbeda. Menggigit? Syahdu? Menggertak? Atau malah fenomenal? Rasa seni mutlak bermain di sini. Menentukan bagaimana diksi, bagaimana alur, bagaimana majas, yang dalam suatu tulisan, hal itu membangun kayanya suatu ‘rasa’ tersebut. Benarlah adanya bahwa dengan tulisannya, seseorang itu ‘ada’ dalam makna apapun.

Menulis tidak semudah membaca. Namun, dari membaca kita bisa menulis. Makin banyak kita membaca, makin mudah kita menulis. Kalau budaya membaca saja tidak ada, bagaimana bisa menulis? Tentu esensi dari rentetan kalimat di atas bukan lantas membaca buku seharian saja, tapi membaca dalam konteks ini mencakup pula mencermati situasi dan kondisi, kritis terhadap lingkungan, menangkap gagasan dari apa yang dibaca, dan senantiasa menjadi pribadi yang terbuka. Sehingga jika seseorang memiliki gagasan ataupun ide-ide baru yang melengkapi, tandingan, atau fenomena lain maupun serupa yang ditemui di sekitarnya, ia punya ‘sesuatu’ untuk diungkapkan. Sayangnya, masyarakat indonesia kebanyakan mengungkapkan ‘sesuatu’ tersebut dengan cenderung mengobrolkannya atau menggunjingkannya. Bahkan banyak diantaranya yang hanya cuek dan menganggapnya angin lalu. Sangat sedikit yang mengungkapkan ‘sesuatu’ itu dengan menulis.

Kembali lagi pada pertanyaan “siapa bilang menulis itu mudah?”. Jawabannya sebenarnya gampang-gampang susah, karena pertanyaan ini berujung retoris, tapi berbobot logis. Menulis itu keiklasan, bukan paksaan. Tulisan yang bagus bukanlah tuntutan dalam kerangka intimidasi. Bagaikan potret kehidupan yang dirangkai dalam satu album, menulis melukiskan track record apapun dalam diri seseorang. Buah tulisan itu akan selalu ada, pun jauh ketika seseorang itu telah tiada. Pemikiran, kisah, maupun karakter diri jelas tercermin dalam buah karya itu. Masalah muncul pada seberapa lekat kebiasaan mengungkapkan ‘sesuatu’ yang dialami seseorang dengan menulis. Seperti saat memandang gelas yang setengah kosong dan setengahnya berisi, optimisme membuncah jika kalimat retorik itu diubah, dari “siapa bilang menulis itu mudah?” menjadi “sangat mudah untuk menulis”. Rasakan dua hal yang sebenarnya bobotnya sama besar dan berlawanan. Jadi sebenarnya, inti permasalahan itu berakar pada otak kita masing-masing, bagaimana kita memandang suatu hal. Termasuk membiasakan menulis. Jika kita berpikir menulis itu sukar, maka sukarlah ia. Tapi sebaliknya, jika berpikir menulis itu mudah, maka mudahlah ia.

Faktor seni sebagai hal yang mutlak dalam membangun kerangka buah tulisan sangat berbeda antara orang perorang dan itu tidak akan pernah bisa dibandingkan. Pun pengalaman seseorang dengan orang lain tidak akan pernah ada yang sama persis. Maka untuk apa merisaukan apa yang kita tulis? Untuk apa merasa kerdil terhadap penulis besar sekalipun? Mereka tidak mengalami apa yang kita alami bukan? Maka jangan mempersulit hal yang mudah. Kalau memang senyatanya mudah, kenapa harus dipersulit? Pandanglah menulis sebagai objek yang mudah. Curahkan apa yang kita alami, kita pikirkan, maupun yang kita rasakan. Maka dengan tulisan itulah kita membangun prasasti terbesar bagi diri kita, yang menunjukkan bahwa kita pernah ada. Karena memang “aku menulis, maka aku ada”.